Jumat, 29 April 2011

PERAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DALAM PENYEBARLUASAN PENDIDIKAN


A.     PENDAHULUAN
Setiap manusia pasti sangat membutuhkan sebuah pendidikan. Baik pendidikan yang berbentuk formal maupun informal. Pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain dan saling berkaitan antara pendidikan dan manusia itu sendiri. Menurut pendidikan, manusia dipandang sebagai makhluk yang berperilaku unik dan lebih kompleks dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia dalam hidupnya diliputi oleh berbagai pemikiran prailmiah dari keinginan serta tanggung jawabnya bisa terbebas dari tindakan serta akibatnya. Segala macam perilaku manusia banyak ditentukan dan diarahkan oleh lingkungannya. Dengan demikian sepanjang hidupnya, manusia ditentukan oleh lingkungan, atau kondisi lingkungan di mana manusia itu berada atau dengan kata lain manusia itu telah dimodifikasi oleh lingkungan.
Pendidikan akan dapat merubah perilaku manusia yang bertujuan untuk mempertahankan hidupnya. Yaitu dengan cara kondisinya diperkuat dengan lahirnya teknologi di bidang pendidikan. Maka yanga menyangkut pelajaran, strategi, metodologi pembelajaran juga ditetapkan dengan dukungan teknologi. Kemudahan teknologi bagi manusia memungkinkan manusia memahami tumbuhnya masyarakat teknologi yang sangat kompleks.
Teknologi pembelajaran yang merupakan bagian dari teknologi pendidikan mempunyai orientasi ke masa depan, yang memandang teknologi sebagai dunia yang dapat diamati serta dipergunakan secara pasti. Oleh karena itu dalam teknologi pendidikan lebih mengutamakan lahiriah, karena penerapan praktis hasil penemuan-penemuan ilmiah yang secara karekteristik menuju ke arah program pengajaran yang ideal dan relatif baik. Dengan demikian pemanfaatan multimedia melalui pengajaran yang bersifat komputerisasi lebih efektif dan efisien dalam penyebarluasan pendidikan akan kebutuhan bagi manusia.
Teknologi Pendidikan sebagi suatu bidang garapan ilmu ataupun teori, memiliki definisi atau kajian tentang hakikat dari teknologi pedidikan itu sendiri. Hakikat dari teknologi pendidikan/pembelajaran dapat dikaji melalui landasan filsafat ilmu dan Teknologi Pendidikan.

B.     RUANG LINGKUP
Filsafat ilmu mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang didukungnya (Suryasumantri 1982:88), ketiga komponen tersebut adalah :
Ontologi (apa), Epistimologi (bagaimana), dan Aksiologi (untuk apa).
Dalam makalah ini akan dibahas tentang kajian aksiologi dari teknologi pembelajaran. Dalam kajian aksiologi, ilmu mempunyai 3 (tiga) macam arti yaitu : 1. Ilmu sebagai produk, 2. Ilmu sebagai proses, 3. Ilmu sebagai masyarakat (Imam Bernadib, 2007: 17)
Dalam kajian aksiologi Teknologi Pembelajaran mempunyai 6 (enam) nilai kegunaan terhadap dunia pendidikan. Keenam kegunaan tersebut adalah :
1. Produktif
2. Ilmiah
3. Individual
4. Serentak
5. Merata / Tersebar luas
6. Berdaya mampu tinggi
Dari keenam nilai kegunaan tersebut pembahasan dalam makalah ini difokuskan pada “Bagaimana peran Teknologi Pembelajaran dalam penyebarluasan pendidikan “. Dalam tinjauan filsafat dan aplikasi pengembangannya.

C.     PEMBAHASAN
1.      Pendekatan Filsafat Teknologi Pendidikan
Yang dimaksud dengan istilah filsafat di sini adalah rangkaian pernyataan yang didasarkan pada keyakinan, konsepsi, dan sikap yang menunjukkan arah atau tujuan yang diambilnya. Rumusan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Ely (1980: 81), dimana seseorang memberikan atas suatu gejala objek seobjektif mungkin. Usaha memberikan arti dalam makalah ini bersifat koheren, yaitu didasarkan pada pengalaman empirik atas sejumlah data yang diamati, jadi merupakan generalisasi dari berbagai gagasan yang berkaitan dengan rujukan tertentu.
Seluruh aspek kehidupan selalu diilhami dan mempunyai pedoman filsafat. Dengan demikian kehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan, bahkan kesadaran atas nilai-nilai hukum dan moral bersumber atas ajaran filsafat. Pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam semua aspek kehidupan temasuk di dalamnya kehidupan suatu bangsa. Tidak dapat dihindari bahwa eksistensi suatu bangsa dapat dilihat dari ideologi atau filsafat hidupnya, maka untuk kelangsungan eksistensi tersebut harus melalui pendidikan. Dalam kepentingan ini pendidikan dapat diartikan sebagai:
ü Pendidikan sebagai Aktifitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu cipta, rasa, karsa, dan budi nurani, serta pertumbuhan dan perkembangan jasmaniahnya.
ü Pendidikan berarti juga lembaga yang bertanggung jawab menetapkan cita-cita (tujuan) pendidikan, isi pendidikan, sistem dan organisasi pendidikan.
ü Pendidikan merupakan pula hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusia dan usaha lembaga-lembaga tersebut dalam mencapai tujuannya. Pendidikan dalam arti ini merupakan tingkat kemajuan masyarakat dan kebudayaan sebagai satu kesatuan.
Sesuai dengan kenyataan tersebut, bahwa filsafat dalam pendidikan merupakan teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan, atau dapat dikatakan sebagai teori yang dipakai berdasar bagaimana “pendidikan itu dilaksanakan” sehingga mencapai tujuan (Dewey, 1946: 383). Dewasa ini, salah satu bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan agar supaya mencapai tujuan, yaitu penerapan teknologi pendidikan dalam proses pembelajaran. Dalam pembahasan ini problem esensialnya adalah:
ü  Merumuskan secara tegas sifat dan hakekat pendidikan (the nature of education).
ü  Merumuskan sifat dan hakekat manusia, sebagai subyek dan obyek pendidikan (the nature of man).
ü  Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan (science of education).
ü  Merumuskan hubungan antara filsafat negara, filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan).
ü  Merumuskan sistem nilai dan norma, atau isi moral pendidikan (tujuan)
Ide filsafat yang memberi asas kepastian bagi nilai peranan pendidikan bagi kemajuan manusia, telah melahirkan ilmu pendidikan, lembaga pendidikan dan aktifitas penyelenggaraan pendidikan. Maka peran filsafat dalam pendidikan merupakan landasan pendidikan yang dilaksanakan.
Uraian di atas jelas bahwa latar belakang ide-ide filsafat menentukan pendidikan, sebab tujuan pendidikan bersumber pada filsafat atau ajaran filsafat.
Definisi yang dikemukakan Prof. Broudy (1961: 14) dalam bukunya, Building a Philisophy of Education, adalah:
“In this book the philosophy of education is regarded as the systematic discussion of educational problems on a philosophical level, i.c., the probing into an educational question until it is reduced to an issue in metaphysics, episthemology, ethics, logic, or aesthetics, or to combination of these”.
Mengapa masalah-masalah pendidikan yang merupakan bagian daripada kehidupan obyektif manusia, sebagai persoalan-persoalan praktis, harus dibahas secara filosofis. Apakah dengan demikian malahan menyebabkan pemecahan persoalan bersifat teoritis, mengambang dari kehidupan yang realistis.
Jika ada pertanyaan-pertanyaan demikian, ini disebabkan karena pemikiran filosofis itu dipandang sebagai pikiran-pikiran teoritis, perenungan-perenungan yang tidak bertolak atas kenyataan sosio-kultural dan kebutuhan manusia. Pada hal, pikiran filosofis adalah pikiran murni yang berusaha mengerti sedalam-dalamnya untuk menemukan kebenaran. Caranya dapat melalui induksi, deduksi, analisa rasional atas factor-faktor, perenungan atas konsepsi-konsepsi, pemahaman atas observasi, atau juga melalui intuisi. Semua ide, konsepsi, analisa, dan kesimpulan-kesimpulan filsafat dalam pendidikan adalah berfungsi teori; dan dari teori ini dipakai dasar praktek (pelaksanaan) pendidikan. Maka filsafat memberikan prinsip-prinsip umum bagi suatu praktik peikan.

2.      Paradigma Filsafat yang melandasi Teknologi Pendidikan
Teknologi Pendidikan sebagai pengetahuan didukung oleh beberapa landasan filsafat, menurut Eichelberger sedikitnya ada tiga paradigma filsafat yang membedakan landasan metodologi pengetahuan, yaitu : positifistik, fenomenologik, dan hermeneutic (1989 :4-8).
Penganut filsafat positivistic berpendapat bahwa keberadaan sesuatu merupakan besaran yang dapat diukur. Pengetahua merupakan pernyataan atas fakta atau keyakinan yang dapat diuji secara empiric. Pada tradisi positivistik menggunakan landfasan berpikir : “kalau sesuatu itu ada, maka sesuatu itu mengandung besaran yang dapat diukur (Eichelberger 1989:4)
Filsafat fenomenologik yang pertama kali dikembangkan oleh seorang matematikawan Jerman Edmund Husserl (1850-1938). Menurut Husserl yang dikutip Creswell (1998:5) filsafat fenomenologi berupaya untuk memahami makna yang sesunguhnya atas suatu pengalaman dan menekankan pada kesadaran yang disengaja (intentionality consciousness) atas pengalaman, karena pengalaman mengandung penampilan keluar dan kesadaran di dalam, yang berbasis ingatan, gambaran, dan makna. Paradigma fenomenologik ini justru menggunakan akal sehat (common sense) yang oleh penganut positivis dianggap tidak/kurang ilmiah. Akal sehat ini mengandung makna yang diberikan oleh seseorang dalam menghadapi pengalaman dan kehidupan nya sehari-hari. Jadi tidak semata-mata didasarkan pada data atau informasi yang diperoleh melalui penginderaan.
Filsafat hermeneutik dikembangkan oleh filosof Jerman Wilhelm Dilthey (Bleicher, 2003: Eichelberger, 1998 :7) menurut filsafat hermeneutik dalam usaha mencari kebenaran dengan menafsirkan makna atas gejala yang ada. Paradigma hermeneutik, meskipun dapat dikatakan satu ketegori dengan paradigma fenomenologik, tapi mempunyai ketentuan yang berbeda. Kebenaran ilmiah dalam paradigma hermeneutik tidak analitik maupun holistic, melainkan sintetik, yaitu memadukan pendapat yang berlawanan (tesis dan antitesis). Paradigma fenomenologik dan hermeneutic dapat digolongkan pada filsafat pascapositivistik. Yang menjadi pertanyaan adalah dalam bagaimana posisi pendidikan dan teknologi pendidikan masuk dalam presepektif tersebut ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita kembali pada pendapat tokoh pendidikan John Dewey (1946) mempunyai pandangan bahwa : sebagai dasar bahwa filsafat adalah teori umum dari pendidikan dan adanya hubungan hakiki timbal-balik antara filsafat dan pendidikan, maka berdirilah filsafat pendidikan sebagai suatu ilmu. Cabang ilmu ini sebagai suatu system menjawab dan memecahkan persoalan-persoalan pendidikan, termasuk di dalamnya teknologi pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawab secara filosofis pula.
Filsafat pendidikan sebagai ilmu yang mengadakan tinjauan dan mempelajari obyeknya dari sudut hakekat, berhadapan dengan problem utama yaitu:
ü  Realita, ialah mengenai kenyataan, yang selanjutnya menjurus kepada masalah kebenaran. Kebenaran akan timbul bila orang telah dapat menarik kesimpulan, bahwa pengetahuan yang dimiliki ini telah nyata. Realita atau kenyataan ini dipelajari oleh fisika dan metafisika, dalam system filsafat disebut ontology yaitu the study of the principles of reality.
ü  Pengetahuan, yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan itu, dan jenis-jenis pengetahuan. Pengetahuan dipelajari oleh epistemology, yaitu the study of the principles of knowledge.
ü  Nilai, yang dipelajari oleh cabang filsafat yang disebut aksiologi. pertanyaan-pertanyaan yang dicari jawabannya antara lain, seperti nilai-nilai bagaimanakah yang dikehendaki oleh manusia dan yang dapat digunakan sebagai dasar hidup, maka pembicaraan aksiologi adalah the study of the principles of value.
Sistem pemikiran filsafat di atas mengantarkan dalam pembahasan Teknologi Pendidikan tidak hanya berpandangan yang bersifat positivistik , tetapi juga memerlukan paradigma pascapositivistik. Berarti landasan filosofis sangat diperlukan dan menjadi penting dalam menjelaskan secara teori dan paktik masalah-masalah teknologi pendidikan (Anglin, ed., 1991).
Kajian filsafat pascaposivistik ini masih belum lengkap, karena akhir-akhir ini telah berkembang presepektif ideologis baru dalam paradigma keilmuan. Persepektif ideologis baru itu meliputi, paradigma pascamodernis (post modernism), paradigma kritis (critical paradigm), pendekatan feminis (feminist approaches) dan pendekatan konstrutivis. Filsafat pascamodern (post modernism) mendorong untuk melakukan analisis kritis terhadap berbagai landasan keyakinan tradisional dan nilai-nilai dalam bidang Teknologi Pembelajaran. Perspektif pasca modern bepegang pada pendapat bahwa Teknologi Pembelajaran sebagi suatu kiat sekaligus sebagi suatu ilmu. Hynka, D (1991) menjelaskan bahwa post modernism adalah sebagai “suatu cara berfikir yang menjunjung prinsip keanekaragaman, temporal (bersifat sementara), dan yang kompleks daripada yang bersifat universal, stabil dan sederhana”. Penganut filsafat pasca modern mengenali dan menemukan stimulus intelektual dalam suatu bunga rampai system yang mampu melahirkan pengetahuan, dan mereka cenderung untuk meganggap setiap batasan dari definisi masing-masing bidang ilmu sebagai suatu cara yang dapat melumpuhkan kreatifitas yang sangat dibutuhkan untuk menstimulasi produktivitas inkuiri dan praktik. Ada semacam penolakan atas pendekatan reduksionis atau penyederhanaan. Selain itu, ada suatu penolakan atas pandangan tradisional yang menganggap bahwa perubahan dari setiap bentuk merupakan suatu proses kumulatif yang berlangsung secara bertahap. Karena itu dianjurkan penggunaan pendekatan multi teori, filsafat pasca modern lebih menyenangi pada hal-hal yang bersifat terbuka, fleksibel dari pada hal-hal yang bersifat tertutup, terstruktur, dan kaku (Hynka, D. 1991).

3.      Objek Filsafat
a. Ontologi
Obyek filsafat ialah segala sesuatu, meliputi kesemestaan. Scope filsafat yang amat luas dan tak terbatas obyeknya itu, perlu adanya pembidangan untuk intensifikasi penyelidikan. Pembidangan atau sistematika filsafat yang pertama adalah Ontologi.
Ontologi kadang-kadang disamakan dengan metafisika. Metafisika ini disebut juga sebagai prote-filosifia atau filsafat pertama. Sebelum manusia menyelidiki yang lain, manusia berusaha mengerti hakekat sesuatu. Manusia dalam antar aksinya dengan semesta raya, melahirkan pertanyaan-pertanyaan filosofis. Apakah sesungguhnya hakekat realita yang ada ini. Apakah realita yang menampak ini suatu realita materi saja. Ataukah ada sesuatu di balik realita itu, suatu “rahasia” alam. Apakah wujud semesta ini bersifat tetap, kekal tanpa perubahan. Ataukah hakekat semesta ini adalah perubahan semata-mata. Apakah realita ini terbentuk atas satu unsure (monisme); atau dua unsur (dualisme). Ataukah lebih dari dua unsur, yakni serba banyak (pluralisme).
Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan metafisis atau ontologism. Sesuatu realita sebagai suatu perwujudan menampakkan diri sebagai satu “tubuh”, satu eksistensi. Sesuatu itu mendukung satu perwujudan, yakni keseluruhan sifatnya; dan yang utama dari perwujudan itu adalah eksistensinya. Wujud atau adanya sesuatu adalah primer, sedang sifat-sifat yang lain adalah sekunder. Berarti eksistensi suatu realita adalah fundamental, sedang sifat-sifat yang lain adalah sesuatu yang accidental, atau suatu atribut saja. Ontologi bertolak atas penyelidikan tentang hakekat ada (existence and being) (Brameld, 1955: 28).
Pandangan ontology ini secara praktis akan menjadi masalah utaqma di dalam pendidikan. Sebab, siswa (peserta didik) bergaul dengan dunia lingkungan dan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu. Oleh karena itu teknologi pendidikan dalam posisi ini sebagai bagian pengembangan untuk memudahkan hubungan siswa atau peserta didik dengan dunia lingkungannya. Peserta didik, baik di masyarakat atau di sekolah selalu menghadapi realita dan obyek pengalaman.
Melalui realita (ontologi), peserta didik secara sistematis dibina potensi berpikir kritis untuk mengerti kebenaran.Implikasi pandangan ontology di dalam pendidikan ialah bahwa dunia pengalaman manusia yang harus memperkaya kepribadian bukanlah hanya alam raya dan isisnya dalam arti sebagai pengalaman sehari-hari; melainkan sebagai suatu yang tak terbatas, realitas fisik, spiritual, yang tetap dan yang berubah-ubah (dinamis) (Runes, 1963: 219-230).
b.  Epistimologi dan Aksiologi
Sedemikian luas dan jauh, dunia pendidikan dianggap sebagai proses penyerahan kebudayaan pada umumnya, khususnya ilmu pengetahuan. Timbul pertanyaan, apakah sesungguhnya ilmu itu, dari mana sumber ilmu itu, bagaimana proses terjadinya dan sebagainya. Persoalan ini secara mendalam dibahas oleh epistemology. Epistemologi ialah suatu cabang filsafat yang membahas sumber, proses, syarat, batas, validitas, dan hakekat pengetahuan.
Dalam sebuah analisa mengenai filsafat, ilmu dan filsafat pendidikan dalam bukunya yang berjudul: Introduction to Philosophy of Education, Stella Van Petten Henderson (1964) mengemukakan, bahwa filsafat selalu berusaha untuk memahami segala sesuatu yang timbul dalam spectrum pengalaman manusia, dan berusaha untuk memperoleh pandangan yang luas (kompprehensif) mengenai alam, dan mampu memberikan penerangan yang universal mengenai hakekat benda-benda (segala sesuiatu).
Pandangan epistemology tentang pendidikan akan membahas banyak persoalan-persoalan pendidikan, seperti kurikulum, teori belajar, strategi pembelajaran, bahan atau sarana-prasarana yang mengantarkan terjadinya proses pendidikan, dan cara m,enentukan hasil pendidikan.
Berdasarkan pandangan tersebut diperlukan prisinp tertentu apakah dianggap baik atau tidak isi dari pengetahuan tersebut, maka epistemology memerlukan pandanghan aksiologi. Aksiologi (axiology), suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value). Brameld (1955) membedakan tiga bagian, yaitu:
ü Moral conduct, tidak moral; bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni etika.
ü Esthetic expression, ekspresi keindahan, yang melahirkan estetika.
ü Socio-political life, kehidupan sosio-politik; bidang ini melahirkan filsafat sosio-politik.
Nilai dan implikasi aksiologi dalam pendidikan yang termuat didalam teknologi pendidikan- ialah “to examine and integrate these values as they enter into the lives of people through the chanels of the schools (Brameld, 1955: 33). (Pendidikan menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut di dalam kehidupan manusia dan membinanya di dalam kepribadian anak).

4.      Tinjauan Aksiologi Teknologi Pendidikan/ Pembelajaran.
Pertanyaan filsafati yang sering timbul dalam aksiologi yaitu : “ Apakah manfaat dari pengetahuan yang telah diperoleh dan dihimpun tersebut ? dalam hal ini Teknologi Pendidikan”.
Dalam tinjauan aksiologis Teknologi Pembelajaran mempunyai beberapa nilai manfaat yang bagi pengembangan pendidkan, karena melalui Teknologi Pembelajaran pendidikan menjadi :
ü  Produktif, artinya dengan modal atau cost yang relatif sedikit mempunyai nilai manfaat yang sangat banyak bagi pengembangan pendidikan.
ü  Ilmiah, artinya produk Teknologi Pembelajaran baik tujuan maupun metodenya berbasis scientific
ü  Individu, artinya bukian kolektif, proses pengkajian teknologi pembelajaran bersifat individu/mandiri atau belajar dengan kecepatan dan ketepatan masing-masing
ü  Serentak dan Aktual, arinya peristiwa yang aktual dapat diketahui secara serentak dalam waktu bersamaan.
ü  Merata / Tersebar luas, artinya pendidikan dapat tersebar luas dan merata bagi semua lapisan masyarakat
ü  Berdaya mampu tinggi (power full) artinya kemampuan sumber belajar dapat diterima dengan cepat dan tepat.
Selain itu manfaat dari Teknologi Pembelajaran seperti yang dirumuskan oleh Komisi Pendidikan Nasional Amerika Serikat (Presidential Commision on Instructional Tecknology) Tahun 1969. yang menyimpulkan kegunaan potensial teknologi pembelajaran sebagai berikut :
a. Meningkatkan produktifitas mendidikan dengan jalan :
ü memperlaju pentahapan belajar
ü membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik
ü mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar
b. Memberikan kemungknan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan :
ü mengurangi control guru yang kaku dan tradisional
ü memberikan kesempatan anak berkembang sesuai kemampuannya.
c. Memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan jalan :
ü perencanaan program pengajaran yang lebih sistematik
ü pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi hasil riset tentang perilaku
d. Lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan :
ü meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media kominikasi
ü penyajian informal dengan data yang lebih konkrit
e. Memungkinkan belajar secara lebih akrab, karena dapat ;
ü mengurangi jurag pemisah atara pelajaran di dalam dan di luar sekolah
ü memberikan pengetahuan/ informasi langsung pada tangan pertama
f. Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama dengan jalan :
ü pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langsung secara lebih luas
ü penyajian informasi menembus batas geografi.

5. Pengaruh Teknologi dalam Teknologi Pembelajaran
Kecuali pengaruh riset dan teori, Teknologi Pembelajaran sebagi suatu bidang, tidak dapat terlepas dari pengaruh dan kemajuan teknologi. Teknologi-teknologi baru banyak memberikan dorongan pada kemajuan teori dan praktik suatu disiplin ilmu,. Yang oleh Salomon (1992) disebut sebagai pola pengembangan teori dari bawah ke atas (bottom-up pattern of theory development). Teknologi-teknologi baru ini memberikan kesempatan pengembangan yang mengarah pada permasalahan-permasalahan yang baru, termasuk kebutuhan untuk :
a. menemukan prinsp-prinsip untuk mengadaptasi pembelajaran dalam situasi yang unik
b. menemukan pendekatan baru dalam pembelajaran interaktif.
c. menemukan pembelajaran dalam lingkungan belajar yang non – formal.
Pengaruh teknologi dalam Teknologi Pembelajaran dapat dijelaskan oleh Solomon (1992) dengan membedakan antara pengaruh teknologi (of technology) dan pengaruh dengan (penggunaan) teknologi (with technology). Dikotomi ini dapat digunakan untuk menguji pengaruh umum teknologi pada bidang Teknologi Pembelajaran.
Untuk mengeksplorasi pengaruh teknologi (of technology) pada Teknologi Pembelajaran yang menjadi pertimbangan adalah berbagai kemungkian system penyampaian dan pengaruhnya terhadap pembelajaran dan belajar. Seperti dicontohkan oleh Hannafin (1992) teknologi dapat memberikan prospek munculnya stimulus yang realistic, memberikan akses terhadap sejumlah besar informasi dalam waktu yang tepat, menghubungkan informasi dan media dengan cepat, dan menghilangkan hambatan jarak antara pengajar dan pebelajar, dan antara pebelajar itu sendiri.
Sedangkan pada pengaruh dengan (penggunaan) teknologi (with technologi) pada Teknologi Pembelajaran, orientsi pertanyaannya akan berbeda, seperti dikemukakan oleh Solomon (1992) Pertanyaan-pertanyaan akan lebih berfokous pada pengaruh pasangan intelektual antara pebelajar dengan teknologi, terhadap peranan lingkungan yang didukung teknologi pada proses kognitif dan berfikir pada jenjang yang lebih tinggi. Dari sudut pandang ini, teknologi dapat menjadi suatu kekuatan yang mendorong pada teori dan praktek yang lebih berorientasi pada kognisi.
6. Pemanfaatan Media secara Serentak dan Aktual dalam Pendidikan.
Salah satu kawasan dalam Teknologi Pembelajaran adalah Kawasan Pemanfatan, Fungsi pemanfaatan kdalam teknologi pembelajaran sangat penting, karena membicarakan paitan pembelajar (audience) dengan sumber atau system pembelajaran. Pemanfaatan adalah aktifitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Pemanfaatan Media adalah penggunaan yang sistematis dari sumber untuk belajar (Barbara B. Seel & Rita C. Richey 1994). Proses pemanfataan media merupakan proses pengambilan keputusan berdasarkan pada spsifikasi desain pembelajaran.
Dalam rangka penyebarluasan pendidikan pemanfaatan media digunakan bersamaan dengan pemanfaatan pengenbangan teknologi. Adapun teknologi yang dijadikan media dalam penyebarluasan pendidikan antara lain :
a. Teknologi Cetak
Teknologi Cetak adalah cara untuk memproduksi atau menyampaikan bahan ajar, seperti buku-buku, dan bahan visual yang statis, terutama melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis. Secara khusus teknologi cetak/visual menurut (Barbara B. Seel & Rita C. Richey 1994). mempunyai karakteristk sebagai berikut :
o teks dibaca secara linier, sedangkan visual direkam menurut ruang
o keduannya biasanya memberikan komunikasi satu arah yang pasif (hanya menerima)
o keduanya berbentuk visual yang statis
o pengembangannya sangat tergantung pada prinsip-prinsip linguistik dan presepsi visual
o keduanya berpusat pada pebelajar (audience), dan
o informasi dapat diorganiosasikan dan distrukturkan kembali oleh pemakai.
b. Teknologi Audiovisual
Teknologi Audiovisual merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan mengguanakan peralatan mekanis dan elektronis untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual. Menurut (Barbara B. Seel & Rita C. Richey 1994 ) secara khusus, teknologi audiovisual mempunyai karateristik sebagai berikut :
o bersifat linier
o menampilkan visual yang dinamis,
o secara khas digunakan menurut cara yang sebelumnya telah ditentukan oleh desainer/pengembang;
o cenderung merupakan bentuk representasi fisik dari gagasan yang riil dan abstrak;
o dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi tingkah laku dan kognitif; dan
o sering berpusat pada guru, kurang memperhatikan interaktfitas belajar siswa/pebelajar.
c. Teknologi Berbasis Komputer
Teknologi Berbasis Komputer merupakan cara-cara memproduksi dan menyampaikan bahan dengan menggunakan perangkat yang bersumber pada mikro prosesor. Menurut (Barbara B. Seel & Rita C. Richey, 1994) teknologi komputer baik yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak, biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut :
o digunakan secara acak atau tidak berurutan, disamping secara linier.
o dapat digunakan sesuai dengan keinginan pebelajar, maupun menurut cara yang dirancang oleh desainer/pengembang;
o gagasan-gagasan biasanya diungkapkan secara abstrak dengan menggunakan kata, symbol maupun grafis;
o d. prinsip-prinsip ilmu kognitif diterapkan selama pengembangan, dan;
o belajar dapat berpusat pada pebelajar dengan tingkat interaktifitas tinggi.
d. Teknologi Terpadu
Teknologi terpadu merupakan cara untuk memproduksi dan menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan komputer. Menurut ( Barbara B. Seel & Rita C. Richey 1994 ) pembelajaran dengan teknologi terpadu mempunyai karakteristik sebagai berikut :
o dapat digunakan secara acak atau tidak beraturan, disamping secara linier;
o dapat digunakan sesuai dengan keinginan pebelajar, disamping cara seperti yang dirancang oleh pengembangnya;
o gagasan-gagasan sering disajikan secara realistik dalam konteks
pengalaman pebelajar, relevan dengan kondisi pebelajar dan dibawah kendali pebelajar
o prinsip-prinsip ilmu kognitif dan konstruktivisme diterapkan dalam pengembangan dan pemanfaatan bahan pembelajaran;
o belajar dipusatkan dan diorganisasikan menurut pengetahuan kognitif sehingga pengetahuan terbentuk pada saat digunakan
o bahah belajar menunjukkan interaktifitas pebelajar yang tinggi.
o Sifat bahan yang mengitegrasikan kata-kata dan tamsil dari banyak sumber media.
Aplikasi-aplikasi tersebut hamper seluruhnya dikembangkan berdasarkan teori perilaku dan pembelajaran terprogram, akan tetapi sekarang lebih banyak berlandaskan pada teori kognitif. (Jonassen, 1988).

D.     KESIMPULAN
Pendidikan merupakan kebutuhan manusia, yang perlu difasilitasi dalam upaya mempermudah mengakses dan memperolehnya dengan memanfaatkan berbagai sumber (baik insani maupun alami)
Kajian filsafat sangat penting maknanya dalam kajian ilmu, teori, konsep dalam bidang pendidikan terutama dalam Teknologi Pendidikan agar dalam pemecahan masalah pendidikan dapat diselesaikan dan dipecahkan secara konfrehensif sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan.
Teknologi Pendidikan merupakan bidang garapan yang ditopang oleh sejumlah teori, model, konsep, dan prinsip-prinsip dari bidang dan disiplin lain, seperti ilmu perilaku, ilmu komunikasi, ilmu kerekayasaan, teori sistem, dan lain-lain, dimana penggarapan tersebut dilakukan dengan sistematik dan sistemik.
Teknologi sebagai suatu bidang garapan mempunyai beberapa manfaat atau fungsi dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan. Salah satu manfaatatau fungsi tersebut adalah penyebarluasan pendidikan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar